This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

6/1/14

Ciri-Ciri Guru Profesional

Dalam menjalankan tugas guru memiliki cara penyampaian dan kepribadian yang berbeda. Apabila guru telah menemukan prinsip dan tabiatnya, profil yang dimiliki tidak bisa disamakan dengan profil guru yang lain. Dalam mengajar guru yang profesional mampu menyampaikan ilmu pengetahuan, keterampilan dan menggunakan cara tertentu sebagai pengetahuan tersebut yang dapat dimiliki orang lain. Berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) pasal 10 ayat 1 ciri-ciri guru profesional sebagai berikut: 1. Mempunyai kompetensi pedagogik Yaitu meyangkut kemampuan mengelola pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran yang dimaksudkan tidak terlepas dari tugas pokok yang harus dikerjakan guru. Tugas-tugas tersebut menyangkut: Merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran. Selain tugas pokok dalam pengelolaan pembelajaran, guru juga melakukan bimbingan dan latihan dalam kegiatan ekstrakulikuler, serta melaksanakan tugas tambahan yang diamanahkan oleh lembaga pendidikan. 2. Mempunyai kompetensi kepribadian Yaitu menyangkut kepribadian yang mantap, berahlak mulia, arif, berwibawa dan menjadi teladan bagi peserta didik. 3. Mempunyai kompetensi profesi Yaitu menyangkut penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Sebagai tenaga pendidik dalam bidang tertentu sudah merupakan kewajiban untuk menguasai materi yang menyangkut bidang tugas yang diampu. Apabila seorang guru tidak menguasai materi secara luas dan mendalam, bagaimana mungkin mampu memahami persoalan pembelajaran yang dihadapi di sekolah. Oleh karena itu, untuk menjadi profesional dalam bidang tugas yang diampu harus mempelajari perkembangan pengetahuan yang berkaitan dengan hal tersebut. 4. Mempunyai kompetensi sosial Yaitu menyangkut kemampuan guru berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik, sesama guru, wali murid dan masyarakat. Kemampuan berkomunikasi dengan baik merupakan salah satu penentu keberhasilan seseorang dalam kehidupan. Komunikasi dan interaksi yang diharapkan muncul antara guru dengan siswa berkaitan dengan interaksi yang akrab dan bersahabat. Dengan demikian diharapkan peserta didik memiliki keterbukaan dengan gurunya.

4/15/14

Majalah At Tarbiyah, Kini Ber-ISSN

Kini majalah MTsN Slawi, At Tarbiyah, telah ber-ISSN (International Standard of Serial Number). Ini berarti bahwa majalah ini kini bisa dijadikan sebagai bukti phisik untuk kenaikan pangkat dan golongan para guru, jika karya mereka yang berupa artikel, karya ilmiah, makalah, hasil penelitian dan laporan PTK dimuat pada majalah At Tarbiyah. Oleh karena itu, kami mengundang para guru untuk mengirim naskah artikel, makalah, laporan PTK dan lain-lain yang dimilikinya untuk diterbitkan pada majalah ini. Tentunya tidak serta-merta naskah yang dimuat akan diterbitkan, karena ada persyaratkan yang harus dilengkapi tentang penulisannya. Jika memnuhi kaidah penulisan, maka akan diterbitkan dan jika tidak maka harus diperbaikinya. Tentunya ini dibutuhkan pemahaman para guru tentang cara dan aturan penulisan untuk artikel, makalah, laporan PTK dan lain sebagainya. Berikut ini disajikan gambar sampul depan beserta nomor ISSN dan kode bar (barcode) dari majalah At Tarbiyah 


4/5/14

Publikasi Ilmiah, ISBN Untuk IV/a butuh?


Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok kegiatan, yaitu: a. presentasi pada forum ilmiah; sebagai pemrasaran/nara sumber pada seminar, lokakarya ilmiah, koloqium atau diskusi ilmiah (angka kredit 0,2) ; b. publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal. Publikasi ilmiah ini mencakup pembuatan: 1) Karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya yang:  Diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk buku yang ber-ISBN dan diedarkan secara nasional atau telah lulus dari penilaian BNSP ( angka kredit 4).  Diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah/jurnal ilmiah tingkat nasional yang terakreditasi (angka kredit 3), provinsi (angka kredit 2), dan tingkat kabupaten/kota (angka kredit 1),  Diseminarkan di sekolah dan disimpan di perpustakaan (angka kredit 4). 2) Makalah berupa tinjauan ilmiah di bidang pendidikan formal dan pembelajaran tidak diterbitkan, disimpan di perpustakaan (angka kredit 2). 3) Tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan pembelajaran pada satuan pendidikan yang dipublikasikan melalui media massa (media online / internet, majalah dan surat kabar tingkat nasional (angka kredit 2) dan koran daerah /tingkat propinsi (angka kredit 1,5) ). 4) Artikel ilmiah bidang pendidikan dan pembelajaran yang dimuat di:  jurnal tingkat nasional yang terakreditasi (angka kredit 2);  jurnal tingkat nasional yang tidak terakreditasi/tingkat provinsi (angka kredit 1,5);  jurnal tingkat lokal (kabupaten/kota/sekolah/-madrasah (angka kredit 1), dsb. c. publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan dan/atau pedoman guru. Publikasi ini mencakup pembuatan: 1) Buku pelajaran per tingkat atau buku pendidikan per judul yang:  lolos penilaian BSNP (angka kredit 6)  dicetak oleh penerbit dan ber-ISBN (angka kredit 3)  dicetak oleh penerbit dan belum ber-ISBN (angka kredit 1) 2) Modul/diklat pembelajaran per semester yang digunakan di tingkat:  Provinsi dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Provinsi (angka kredit 1,5);  Kabupaten/kota dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (angka kredit 1);  Sekolah/madrasah setempat ( angka kredit 0,5). 3) Buku dalam bidang pendidikan dicetak oleh penerbit yang ber-ISBN (angka kredit 3) dan/atau tidak ber-ISBN (angka kredit 1,5) ; 4) Karya hasil terjemahan yang dinyatakan oleh kepala sekolah/ madrasah tiap karya (angka kredit 1); 5) Buku pedoman guru (angka kredit 1,5). Silahkan Download buku-bukunya

3/18/14

PTK: Efektivitas Pembelajaran IPA Konsep Sistem Tata Surya melalui Penggunaan Multimedia Interaktif

SHOLAHUDDIN AHMAD. NIP : 196705201994031003, 2013. “Efektivitas Pembelajaran IPA Konsep Sistem Tata Surya melalui Penggunaan Multimedia Interaktif, Suatu PTK Bagi Siswa Kelas IX.G Semester Genap, MTs. Negeri Slawi Kab. Tegal, Tahun Pelajaran 2012/2013”.

Kata Kunci: Efektivitas Pembelajaran, Sistem Tata Surya, Multimedia Interaktif

Permasalahan yang diangkat pada penelitian tindakan kelas ini adalah: apakah penggunaan multimedia interaktif pada konsep Sistem Tata Surya, dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran konsep tersebut serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX.G Semester Genap MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2012/2013?

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan multimedia interaktif pada konsep Sistem Tata Surya dalam meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX.G Semester Genap MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2012/2013. Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas IX.G Semester Genap MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 38 siswa, terdiri atas: 22 laki-laki dan 17 perempuan. Prosedur penelitian tindakan kelas ini ditempuh dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: melalui penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran, efektifitas belajar dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.

Hasil belajar siswa pada tes akhir siklus I memiliki rata-rata kelas 58,85, sedangkan siswa yang dinyatakan tuntas mencapai 12 siswa (30,77%). Sedangkan nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 73,46 dan sebanyak 35 siswa (89,74%) dinyatakan tuntas baik secara individual maupun klasikal. Perhatian dan antausiasme siswa meningkat, kegiatan diskusi kelompok pun sudah terlihat efektif karena siswa-siswi aktif dalam kerja kelompok, kerja-sama anggota kelompok pun semakin terarah tanpa harus terus dibimbing.

Full pdf File, see on:  https://www.academia.edu/5517651/Bab_1_2_3_4_5

5/30/13

Tentang Living Values (LVE)


Mengapa LVE? 
Anak-anak, orang muda dan masyarakat saat ini semakin terkena dampak negatif dari kekerasan, masalah sosial dan kurangnya rasa menghargai pada sesama dan dunia di sekitar mereka. Nilai-nilai kehidupan yang dianggap bisa memberi panduan bagi individu untuk menghadapi dampak negatif tersebut, dirasakan semakin luntur dan terkubur dalam. Pendidikan nilai dirasa semakin penting untuk menawarkan pengalaman positif dan memberi pilihan yang dapat memperkuat nilai-nilai kehidupan, khususnya bagi anak-anak dan remaja. 

Apakah LVE itu? 
Living Values Education adalah program pendidikan yang menawarkan pelatihan dan metodologi praktis bagi para pendidik, fasilitator, pekerja sosial, orang tua dan pendamping anak untuk membantu mereka menyediakan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda menggali serta mengembangkan nilai-nilai universal. Program pendidikan nilai ini juga berlanjut sampai tahap bagaimana anak-anak dan orang muda dapat mengasosiasikan nilai tersebut dalam ketrampilan sosial-emosional dan intrapersonal-interpersonal mereka sehari-hari. Salah satu proses mendasar dalam program pelatihan Living Values Education adalah tiap pendidik juga diajak untuk merefleksikan dan menggali nilai pribadi mereka, agar dapat menjadi pondasi dalam menciptakan suasana belajar yang berbasis nilai. Living Values Education percaya bahwa nilai tidak diajarkan, melainkan ditangkap atau dirasakan. Murid belajar dari contoh yang diberikan pendidiknya. Oleh karena itu, sangat penting bagi tiap pendidik untuk menyadari dan terus menghidupkan nilai pribadi mereka, untuk dapat menjalani peran sebagai panutan ini secara positif. Kurikulum Living Values Education mencakup berbagai aktivitas bermuatan nilai untuk damai, menghargai, kasih sayang, kerjasama, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati,tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, kebebasan dan persatuan. Selain digunakan dalam pendidikan formal dan informal, Living Values Education juga memiliki materi khusus untuk anak korban perang atau konflik, anak korban gempa bumi, anak jalanan, anak dalam rehabilitasi narkoba dan anak dalam penjara remaja. 

LVE di Indonesia 
Living Values Education pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2002. Pada awalnya, aktivitas Living Values Education diinisiasi secara personal oleh beberapa trainer yang telah mengikuti pelatihan bersama LVE Internasional. Berbagai kegiatan, seminar dan pelatihan Living Values Education kemudian dilakukan di banyak kota di Indonesia. Mulai dari Banda Aceh, Tapaktuan, Jakarta, Bogor, Bandung,Subang, Sukabumi, Yogyakarta, Salatiga, Solo, Kupang, Tabanan, Singaraja, sampai di Ambon dan Ternate. Program dan aktivitas Living Values Education tersebut tidak hanya dilakukan dalam lingkungan pendidikan, namun juga di kamp pengungsian, dalam komunitas maupun institusi lainnya. Pada tanggal 1 Desember 2008, Yayasan Karuna Bali ditunjuk menjadi perwakilan Asosiasi Living Values Education di Indonesia oleh ALiVE (Asosiasi LVE) Internasional. Yayasan Karuna Bali mengemban tugas sebagai payung hukum, mengeluarkan akreditasi pelatih dan mengkoordinasi kegiatan-kegiatan Living Values Education di Indonesia.